Cerita Gempa Pertama di Jepang
Kali ini, aku mau cerita gimana kejadian gempa dengan kekuatan 7.6 SR yang terjadi di Ishikawa Jepang pada Senin (1/1/2024). FYI guys, tempat tinggalku di Kanazawa, Ishikawa yang dekat dengan pusat gempa hehe, searching aja kalau mau lebih tau 😂. Nah jadi waktu itu aku baru banget selesai masak, berharap bisa menikmati makanan enak yang aku masak sepenuh hati seperti anak sendiri. Ehh,,, udah kaya iklan kecap b*ango aja. Tapi bener, aku masak ayam pake kol bumbunya saus tiram, kecap, saus bangkok dan bumbu MSG yang (kayaknya) enak banget, soalnya belum makan.
Fig 1. Makan daging ayam pake sayur kol hehe
Plot twistnya aku lagi ngomongin gempa yang baru terjadi di Indonesia, kaya eh loh kok? Hehe. Sore itu sekitar jam 16.10 JST. Baru aja aku mau nyoba alat gym yang baru aku beli, nunggunya sekitar satu bulan? Lupa hehe, pokoknya baru banget nyampe tanggal 31 Desember 2023 malem. Udah semangat kan, tapi tiba-tiba takdir berkata lain hehe.
Oh iya selain itu, sebenernya ada cerita unik. Jadi aku itu cukup padet dengan persiapan data untuk kegiatan international symposium di bulan Januari, kalau pun ada waktu senggang aku baito. Jadi bisa dibilang apartment belum sempet diberesin kurang lebih 1 mingguan. Aku lebih mentingin prioritas buat kalkulasi, siapin bahan presentasi dan baito pastinya hehe... Hari itu, baru banget aku selesai beres-beres dan apartmentku rapih tanpa barang berserakan. Tiba-tiba semua berubah seketika.
Fig 2. Gempa bikin kamarku yang rapih berubah seketika
Yaaa begitulah kiranya penampakan rumahku kala itu. Sebetulnya sebelum kejadian gempa besar itu, ada sekitar 2 kali gempa kecil. Bahkan aku sempet ngabarin temenku di Indonesia "Eh gempa", dia jawab "Plotwist banget kak, kita lagi ngomongin gempa". Akhirnya aku cuman diem karena gempanya sebentar, dan selalu yakin dengan konstruksi bangunan yang tahan gempa di Jepang. Nah tapi tapi tapi, pas gempa ketiga udah agak aneh, (bahkan aku ngetik pun sambil kebawa perasaan kala itu).
Tiba-tiba, gempanya kenceng banget. Setahan-tahannya bangunan kalau tanahnya ngebalik pasti lain cerita, itu yang ada dipikiranku. Tiga detik aku tahan buat tetep diem, tapi tiba-tiba ada suara piring jatuh dan pecah. Arghhh ngga karuan banget pokoknya.. Dari lantai 3 ke lantai 1 aku lari kurang dari 5 detik, aku inget banget waktu itu nyaksiin kejadian gempa yang lama dari luar. Oh iya, pas sebelum lari posisi apartmentku kekunci, susah bukanya dan panik. Haduh ada ada saja.
Pas lagi di jalan ngeliat burung pada terbang bergerombol dan di HP bunyi notifikasi "Earthquake, Tsunami". Astaghfirullah, kenapaaaa? Ditambah gak ada satu orang pun yang keluar gedung dengan kondisi gempa sekenceng itu. Aku gak paham padahal banyak international student di daerah tempatku tinggal. Yang ada dipikiranku dengan gempa sekenceng itu "Sekuat-kuatnya bangunan kalau tanahnya geser aku ga yakin dia bertahan". Makannya aku lari loncat sampe kakiku sakit biru-biru gak karuan. Sakit wkwk..
Finally, aku balik ke kamar ngeliat heater air yang nempel di dinding jatuh. Aku di lantai 3 makannya airnya jatuh ke lantai 2 dan 1. Semua basah udah kayak air terjun, yang aku takutin itu ada listrik yang ngalir. Kan kalau kesetrum bener-bener ngga lucu. Airnya deras semua basah kaya lagi kena banjir :"). Bayangin dari sekian banyak kamar tapi heater dikamarku yang rubuh. Alarm apartmentku bunyi udah kaya kebakaran, panik banget. Bingung cara matiin alarmnya takut konslet dan kebakaran. Beberapa orang keluar, dari banyaknya kamar yang lagi stay di apato itu sekitar 5 orang karena kan lagi musim liburan. Beberapa pulang dan lagi pada main ke tempat lain, kami semua panik. Sampe ada orang jepang (tetangga) dateng, mereka ga bisa bahasa Inggris kami bingung mana lagi ada peringatan evakuasi untuk tsunami karena daerah kami deket pantai (meski sebetulnya cukup jauh). Syukurlah ada orang jepang juga yang tinggal satu apato sama kami, jadi dia yang komunikasi.
Singkat cerita airnya berhasil mati, pas di cek ada beberapa pipa yang patah termasuk di tempat parkiran. Jadi memang cukup banyak dan satu apartment udah kaya kehujanan tanpa atap hehe. Disitu aku inget belum makan, jadi aku balik ke kamar nyiapin dokumen penting baju ganti dan makanan. Di pinggir jalan aku bingung mau kemana sambil makan masakanku yang menurutku enak (karena lagi laper huhu)... Alhamdulillah-nya makananku tidak tumpah sama sekali dari atas kompor :") Jadi masih bisa aku makan hehe. Hari udah mulai gelap, tiba-tiba ada tetangga (warga asli sudah agak berumur) yang mau "mengevakuasi" kami karena sudah tidak mungkin untuk tetap tinggal di apato. Baik banget, sampe merhatiin kami, ngasih kaos kaki dan makanan.
Tiba-tiba, HP ku bunyi dan ada suara "Nad dimana? Ini aku depan apato kamu". Ah ternyata kaka tingkatku, dia memastikan bahwa aku dan temanku yang lain baik-baik saja. Akhirnya singkat cerita kami berdiskusi dan memutuskan untuk menginap di shelter malam itu. Termasuk tetangga kami dan teman apato yang lain. Saya dan teman Indonesia saya diantar menggunakan mobil senpai kami (kaka kelas). Terima kasih, hehe.
Setibanya di shelter ternyata sudah banyak orang Indonesia, kami memutuskan bermalam disana dan gempa masih terus terjadi. Mungkin dalam sehari ada 70-100 gempa susulan? dan tidak jarang sangat terasa. Jadi ya memang ini pengalaman serius untuk aku khususnya.
Fig 3. Shelter yang dingin karena musim dingin :")
Melansir dari wikipedia "Guncangan dan tsunami yang menyertainya menyebabkan kerusakan yang luas. Gempa ini adalah yang terbesar di negara itu sejak gempa bumi Tohoku 2011". Ya mungkin bisa dibayangkan ya hehe, setelah itu kami memutuskan untuk pulang paginya dan mencoba tetap tinggal di apato dengan kondisi apato kosong. Hanya ada saya dan dua teman Indonesia saya yang kebetulan tinggal satu apato. Beberapa kali gempa dan kami sesekali langsung berdiri, intinya kami bertiga tinggal dalam satu kamar yang sama selama 4 hari berturut-turut. Kondisi apato kami tidak ada air, sehingga setiap hari kami mengungsi untuk pinjam kamar mandi orang Indonesia yang apatonya baik-baik saja hehe.
Akhirnya kami lelah dan mencoba menghubungi kembali pihak apato yang sedang libur. Mereka benar-benar tidak bisa dihubungi saat hari libur meskipun apato kami banjir hehe. Tibalah tanggal 5 dimana mereka semua sudah mulai masuk kerja dan mereka menginformasikan untuk kami pindah ke apato teman lain sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Mana mungkin itu terjadi, begitu terbatasnya aktivitas kami jika menginap di apato orang lain?. Akhirnya mereka menawarkan untuk sewa hotel dan apakah teman-teman tau? Kami tinggal selama14 hari di hotel hehe, enak sih karena tidak usah beres-beres dan include sarapan, tapi tetap saja rumah sendiri jauh lebih enak meski dingin. Yaa sampai saat ini aku dan temanku masih tinggal di hotel. Kami berencana akan pindah pada 18 Januari ini ke sharing house dan tetap tinggal bersama-sama. Sharing house ini pun diberikan oleh pemilik apato kami sebagai kompensasi sampai apato kami bisa ditempati.
Pihak apato bilang bahwa air masih belum selesai, kemungkinan baru bisa digunakan pada awal bulan Februari. Wah luar biasa bukan? Sebegitu parahnya apato kami. Tidak tahu deh, yang pasti dampak dari gempa ini sangat terasa. Kaki masih sakit, trauma masih ada. Asal jangan trauma karena cinta hehehe, ngga deh bercanda, trauma karena gempa juga cukup luar biasa. Ada gerakan sedikit meski itu bukan gempa langsung waspada bukan main. Yaaa begitulah cerita gempaku saat ini. Semoga tidak lagi merasakan gempa di Jepang maupun di Indonesia. Kalau pun terjadi semoga keadaannya semua baik-baik saja dan selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.
Stay safe ya teman-teman, jangan lupa berdo'a. Nanti kita cerita-cerita lagi, hehehe. See U!!!
Komentar
Posting Komentar